Masih ingat dengan tulisan di blog ini tentang 10 pemuda Indonesia yang mampu mengguncang dunia? Mungkin kini waktunya kembali untuk mereview tulisan itu, karena ternyata pemuda Indonesia yang konon mampu mengguncang dunia itu bisa jadi hanya khayalan atau cita-cita belaka. Apa sebabnya? karena tunas-tunas muda itu mungkin (baca: bisa jadi) layu sebelum berkembang.
Baru-baru ini dunia pendidikan kita mendapat sorotan yang sangat tajam karena begitu banyaknya sekolah tingkat SLTA yang tidak mampu meluluskan muridnya dalam ujian akhir nasional (UN). Republika.com mengutip bahwa terdapat 267 sekolah yang 100 %, muridnya tidak lulus UN. Ini merupakan salah satu potret buram dunia pendidikan kita. Ditengah berbagai sorotan mengenai perlunya pemerataan kualitas pendidikan, UN kembali melahirkan fakta yang membuat kita berfikir perlunya evaluasi yang radikal dalam sistem pengelolaan UN. Pemerintah harus cepat mengevaluasi segala hal yang berkaitan dengan UN, misalnya mengenai kualitas guru, kualitas fisik sekolah di daerah terpencil hingga masalah kebijakan yang menyatakan bahwa UN adalah penentu kelulusan di sekolah.
Hasil UN yang ternyata membelalakan mata banyak pihak dengan tingginya angka ketidaklulusan itu juga menimbulkan stress dan rasa psikis yang tidak baik di tengah-tengah anak didik. Mereka dididik untuk lulus UN dan tidak pernah mendapat bimbingan bila gagal UN karena mereka dipersiapkan untuk lulus dan bukan gagal. Faktor-faktor seperti itulah yang juga berperan mendorong siswa untuk takut dan terbebani dalam mengerjakan soal-soal UN.
Hal lain yang tidak kalah mirisnya adalah pasca UN. Banyak siswa yang lulus UN dengan nilai tinggi ternyata "dilarang" (baca: tidak mampu) untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi karena terkendala biaya. Di salah satu Stasiun TV nasional baru-baru ini mengulas tentang murid-murid yang memiliki nilai hasil UN tertinggi di beberapa provinsi (Bali dan Jakarta) tidak tahu harus kemana dan bagaimana cara untuk mereka kuliah. Hmmmm....miris bukan. Di tengah kontroversi mengenai penyelenggaraan UN, mereka tampil menjadi "pemenang" dengan nilai UN yang brilian, tetapi harus menjadi layu semangatnya karena masih bingung dengan apa mereka kuliah nanti. Kondisi ini seharusnya menjadi concern pemerintah. Sebaiknya pemerintah memberikan apresiasi atau semacam "hadiah" bagi mereka dengan cara memberikan beasiswa atau memberikan mereka tiket masuk ke PTN yang mereka inginkan tanpa tes. Karena disisi lain, murid-murid berprestasi ini adalah semacam "pembela" atau justifikasi bagi pemerintah yang menunjukan bahwa kebijakan UN adalah tidak salah karena terbukti banyak murid yang lulus UN dengan nilai tinggi asalkan mereka mau belajar dengan rajin jauh sebelum dilaksanakan UN (tidak dengan sistem kebut semalam) dan berdoa.
Tapi sepertinya hal tersebut masih jauh panggang dari api..Walaupun sudah diekspose oleh beberapa media, Pemerintah dan pihak-pihak terkait masih terlihat adem ayem melihat permasalahan ini. Mungkin karena pemerintah masih fully concentrated kepada kasus hukum besar atau masalah mundurnya seorang menteri untuk menjadi pejabat di World Bank. Semoga saja hal ini hanya sementara, dan setelah itu, pemerintah langsung peduli dengan masalah tunas-tunas" muda bangsa itu.
Semoga saja masalah pendidikan menjadi konsentrasi nomor satu pemerintah. Anggaran pendidikan harus ditingkatkan menjadi yang paling tinggi dibandingkan anggaran untuk bail out bank bermasalah, BLBI, kredit macet dan pembayaran hutang. Karena mengutip istilah pengamat kebijakan pendidikan, "sudah tidak jamannya lagi mengatakan bahwa Kekayaan Indonesia adalah Sumber Daya Alamnya nya, tetapi kita harus berani mengatakan bahwa Kekayaan Indonesia adalah sumber daya manusianya yang mampu mengguncangkan dunia". Semoga saja.................
(Use your mind and your heart) Menulislah dengan hati dan akalmu
Selamat datang di blog penuh kebebasan dan kreativitas yang baik
Wednesday, 5 May 2010
Thursday, 8 April 2010
Kebahagiaan dan kenikmatan
Alhamdulillah....akhirnya bisa nulis lagi...sudah lama rasanya ga nulis di blog ini...
Ga tau kenapa ingin nulis lagi, yang jelas setelah dengar pengajian di mesjid, ada sesuatu yang menarik yang harus disampaikan ke orang lain..Ya, lewat media inilah mungkin cara yang mudah dan murah untuk memberitahukan kepada orang lain...
Ada sebuah ceramah bijak yang membuat penulis terinspirasi untuk berbagi kepada yang lain, yaitu mengenai perbedaan "Kebahagiaan dan kenikmatan".
Apa sih bedanya? Toh keduanya sangat didambakan oleh manusia, dan terkadang sangat sulit untuk meraihnya bahkan banyak orang yang lupa untuk bersyukur apabila telah mendapatkannya.
Ada seorang ustad yang berceramah tentang kenikmatan dan kebahagiaan. Menurut dia, kenikmatan dan kebahagiaan, semua bersumber dari Allah SWT. Tetapi ada beberapa perbedaan yang siginfikan diantara keduanya, yaitu:
- Kenikmatan diturunkan oleh Allah SWT, kepada mahluknya yang tidak berakal jadi hanya merasakan nikmatnya saja dan itu sesaat, seperti kepada hewan dan tumbuhan. Tetapi bila ke manusia, Allah SWT menurunkan kenikmatan dan kebahagiaan, jadi nikmat yang diterima tidak sesaat dan bila disyukuri dapat mendatangkan kebahagiaan.
- Kenikmatan itu berasal dari sesuatu yang kita dapatkan, seperti mendapat hadiah atau bila kita mampu mobil mewah atau rumah mewah, tetapi kita harus bersusah payah untuk membayar cicilannya setiap bulan. Bila seperti itu berarti kita belum bahagia. Contoh yang lain adalah seorang wanita/laki-laki yang mendapatkan istri/suami yang dia impikan (tetap melupakan faktor agama dan ahlak) sehingga banyak masalah dalam pernikahan mereka. Sementara itu kebahagiaan berasal dari sesuatu yang kita berikan kepada orang lain (amal), contohnya seorang ibu yang memasak untuk keluarga dan makanannya habis dimakan oleh keluarganya, seorang ayah yang mencari nafkah halal untuk keluarganya yang tidak pernah mengenal lelah atau seorang pegawai kecil yang mampu membeli rumah kecil atau mobil butut dengan uang yang halal tetapi merasa bersyukur dengan apa yang dimiliki.
sebenarnya masih banyak hal yang lain mengenai kebahagiaan dan kenikmatan tetapi sayang penulis tidak membawa catatan waktu mendengar tausiyah bijak dari sang ustad sehingga banyak yang terlupa..tetapi hal yang paling penting dalam tausiyah itu adalah " Kita harus bersyukur dengan apapun yang kita dapatkan dari Allah SWT, karena bila kita melupakannya, maka kita hanya mendapatkan kenikmatan sesaat yang setelah itu akan ada azab yang pedih. Tetapi bila kita bersyukur, apapun yang kita terima walupun sedikit, akan terasa sangat bahagia dan akan terus bertambah"....
Wassalam
Tuesday, 20 October 2009
Jepang Pasca Pemilu 2009: Politik Dalam Negeri, Hubungan Luar Negeri dan Dampak bagi Indonesia
Artikel ini pernah dikirim ke sebuah harian surat kabar Ibukota sekitar awal Bulan September 2009 yang lalu, tapi tidak dimuat sehingga penulis mencoba memasukan ini ke dalam blog penulis sendiri, sebagai sarana untuk bertukar informasi dengan para pembaca blog ini.
Karena sebuah tulisan akan bermakna bila tulisan itu dibaca dan menjadi manfaat bagi orang banyak, minimal sebagai sarana informasi bagi orang lain.
-------------------------------------------------------------------------------------
Jepang baru saja melakukan pemilu (30 Agustus 2009) untuk menentukan kepemimpinan baru di Negara matahari terbit tersebut. Pemilu tersebut ditandai dengan kemenangan Partai Demokrat Jepang (DPJ) yang dikomandani oleh Yukio Hatoyama yang hampir dapat dipastikan akan menjadi perdana menteri (PM) Jepang yang baru menggantikan PM yang sekarang Mr. Taro Aso. Kemenangan DPJ merupakan kemenangan yang mengakhiri dominasi pemerintahan konservatif Aso dan dominasi Partai Demokrat Liberal (LDP)di Parlemen Jepang. Hasil pemilu tersebut ternyata juga memberikan respon positif kepada nilai tukar Yen terhadap dollar. Yen menguat 0,21 point menjadi 93,29 yen per 1 dollar (antaranews.com,2009).
Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial
Dalam debat “man to man” dengan PM Incumbent, Taro Aso, pada 13 Agustus 2009, Hatoyama mengangkat isu-isu tentang peningkatan kesejahteraan sosial warga dan peningkatan industry domestic Jepang. Walaupun debat itu sendiri tak luput dari kritik bahwa mereka berdua cenderung bersifat defensif, tidak terlalu spesifik dan non-praktis dalam kebijakan mereka (the mainichi daily news, Agustus, 2009). Hatoyama menggunakan isu perbaikan kesejahteraan anak-anak dengan peningkatan tunjangan anak dan akan menggratiskan sekolah untuk seluruh tingkatan. Perhatian Hatoyama dan Partainya juga terfokus untuk Isu “Aging” di Jepang. Warga akan didorong untuk memiliki anak lebih dari satu. Hal ini dimaklumi karena Jepang kini memiliki jumlah Warga usia lanjut lebih tinggi dibandingkan jumlah usia produktif dan anak-anak. Bagi warga Negara asing yang tinggal di Jepang, Hatoyama juga akan memberikan perhatian lebih kepada mereka, hanya saja hal ini tidak dijelaskan lebih jelas olehnya. Karena kebijakan ini sebenarnya juga telah dilakukan oleh PM Aso dengan memberikan subsidi (semacam BLT) kepada seluruh penduduk tidak terkecuali WNA pada medio 2009 lalu (per 1 Februari 2009). Dari sisi ekonomi, Hatoyama juga menekankan tidak perlunya menaikan pajak penjualan selama 4 tahun ke depan jika partainya memenangkan pemilu. DPJ juga akan mengusahakan peningkatan permintaan domestik bagi usaha-usaha konsumsi dan produksi di Jepang. Hal ini juga sebenarnya telah ada dalam masa pemerintahan PM Taro Aso.
Politik luar negeri
Lalu bagaimana dengan politik luar negeri pasca kemenangan DPJ? Inilah yang sebenarnya menjadi perbedaan yang akan sangat mencolok bila dibandingkan dengan kebijakan PM Taro Aso dan kebijakan LDP dalam kebijakan luar negeri Jepang. Ketua DPJ, Yukio Hatoyama, sepertinya lebih memilih untuk condong untuk “merapat” ke Asia daripada ke Amerika serikat dan Eropa. Hatoyama dalam beberapa kesempatan kampanye mengatakan bahwa Jepang harus mengutamakan Bangsa Asia, karena bila jepang dan bangsa di Asia lain bisa mengembangkan potensinya maka dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi baru seperti di Eropa. Mungkin di era kepemimpinan Hatoyama, Single Currency antara Korea, China dan Jepang seperti yang pernah dibahas dalam periode mantan PM Junichiro Koizumi dan PM Taro Aso, akan terwujud.
Sebagaimana yang dilansir oleh banyak surat kabar di Jepang, Hatoyama akan meningkatkan “derajat” Jepang dalam politik luar negeri dengan Amerika Serikat. Kebijakan keamanan sepertinya akan sangat diperhatikan oleh Hatoyama. “Jepang harus mengembangkan system keamanan agar lebih independen dari Amerika” kata Hatoyama, sebagaimana dilansir oleh harian Jepang, mainichi daily news. Isu-isu nasionalisme memang salah satu “senjata” bagi Hatoyama dalam menarik simpati warga masyarakat.
Dampak terhadap Indonesia
Hubungan Indonesia – Jepang terbilang sangat stabil dibandingkan dengan hubungan Indonesia dengan Belanda, Australia atau bahkan dengan Malaysia. Tidak ada gejolak yang mempengaruhi hubungan kedua negara pasca Peristiwa Malari 1974. Pemerintah Jepang pasca peristiwa Malari sangat menjaga hubungan dengan Indonesia. Banyak program bantuan pendidikan berupa beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Jepang kepada Indonesia baik dalam bentuk non Loan maupun dalam bentuk Loan (pinjaman LN).
Calon PM. Jepang yang akan datang, Yukio Hatoyama, dalam kampanyenya mengatakan akan meningkatkan hubungan dengan negara-negara Asia termasuk dengan Indonesia. Hal ini patut ditunggu aplikasi dan implikasinya. Terkait dengan investasi, apakah pemerintah Jepang akan mendorong para Investor dari Jepang untuk menaruh “uang” di Indonesia lebih besar lagi atau apakah Jepang akan membuka “keran” import yang lebih besar ke Indonesia. Patut ditunggu juga, apakah ada dampak yang signifikan terhadap kerjasama di bidang pendidikan (beasiswa atau infrastruktur pendidikan) dan di bidang tenaga kerja. Tahun 2008 lalu, Indonesia mengirimkan 300 perawat ke Jepang (antaranews, 2008) sebagai kerjasama awal dari total 1000 perawat yang akan dikirimkan ke Jepang. Pekerja-pekerja /trainee asal Indonesia juga banyak tersebar di banyak perusahaan manufaktur di Jepang. Apakah setelah pergantian kepemimpinan baru di Jepang, akan ada perubahan drastis di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan.
Para analis dan praktisi pasar modal dan valuta asing juga berharap akan ada dampak positif dari hasil pemilu Jepang ini terhadap nilai tukar rupiah-yen dan peningkatan indeks saham. Seperti kita ketahui bersama bahwa Yen melonjak sangat tajam pada penghujung 2008 (bahkan 1 Yen mencapai 129 rupiah) sebagai akibat dari krisis keuangan global II. Semoga kebijakan yang akan diambil oleh PM yang baru nanti dapat berdampak baik bagi ekonomi kedua negara. Diplomat Jepang di Indonesia mengatakan bahwa pemerintahan yang baru nanti tetap akan memprioritaskan Indonesia sebagai salah satu mitra yang sangat penting (kendariekspres,2009). Hanya saja kita juga patut melihat, kebijakan apa yang akan diambil oleh pemerintah kita dalam membina kerjasama dengan pemerintahan baru Jepang.
Jepang selalu mengatakan bahwa mereka adalah Saudara Tua Indonesia. Saudara Tua dan Saudara Muda akan selalu bekerja sama dengan baik..Semoga.
Karena sebuah tulisan akan bermakna bila tulisan itu dibaca dan menjadi manfaat bagi orang banyak, minimal sebagai sarana informasi bagi orang lain.
-------------------------------------------------------------------------------------
Jepang baru saja melakukan pemilu (30 Agustus 2009) untuk menentukan kepemimpinan baru di Negara matahari terbit tersebut. Pemilu tersebut ditandai dengan kemenangan Partai Demokrat Jepang (DPJ) yang dikomandani oleh Yukio Hatoyama yang hampir dapat dipastikan akan menjadi perdana menteri (PM) Jepang yang baru menggantikan PM yang sekarang Mr. Taro Aso. Kemenangan DPJ merupakan kemenangan yang mengakhiri dominasi pemerintahan konservatif Aso dan dominasi Partai Demokrat Liberal (LDP)di Parlemen Jepang. Hasil pemilu tersebut ternyata juga memberikan respon positif kepada nilai tukar Yen terhadap dollar. Yen menguat 0,21 point menjadi 93,29 yen per 1 dollar (antaranews.com,2009).
Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial
Dalam debat “man to man” dengan PM Incumbent, Taro Aso, pada 13 Agustus 2009, Hatoyama mengangkat isu-isu tentang peningkatan kesejahteraan sosial warga dan peningkatan industry domestic Jepang. Walaupun debat itu sendiri tak luput dari kritik bahwa mereka berdua cenderung bersifat defensif, tidak terlalu spesifik dan non-praktis dalam kebijakan mereka (the mainichi daily news, Agustus, 2009). Hatoyama menggunakan isu perbaikan kesejahteraan anak-anak dengan peningkatan tunjangan anak dan akan menggratiskan sekolah untuk seluruh tingkatan. Perhatian Hatoyama dan Partainya juga terfokus untuk Isu “Aging” di Jepang. Warga akan didorong untuk memiliki anak lebih dari satu. Hal ini dimaklumi karena Jepang kini memiliki jumlah Warga usia lanjut lebih tinggi dibandingkan jumlah usia produktif dan anak-anak. Bagi warga Negara asing yang tinggal di Jepang, Hatoyama juga akan memberikan perhatian lebih kepada mereka, hanya saja hal ini tidak dijelaskan lebih jelas olehnya. Karena kebijakan ini sebenarnya juga telah dilakukan oleh PM Aso dengan memberikan subsidi (semacam BLT) kepada seluruh penduduk tidak terkecuali WNA pada medio 2009 lalu (per 1 Februari 2009). Dari sisi ekonomi, Hatoyama juga menekankan tidak perlunya menaikan pajak penjualan selama 4 tahun ke depan jika partainya memenangkan pemilu. DPJ juga akan mengusahakan peningkatan permintaan domestik bagi usaha-usaha konsumsi dan produksi di Jepang. Hal ini juga sebenarnya telah ada dalam masa pemerintahan PM Taro Aso.
Politik luar negeri
Lalu bagaimana dengan politik luar negeri pasca kemenangan DPJ? Inilah yang sebenarnya menjadi perbedaan yang akan sangat mencolok bila dibandingkan dengan kebijakan PM Taro Aso dan kebijakan LDP dalam kebijakan luar negeri Jepang. Ketua DPJ, Yukio Hatoyama, sepertinya lebih memilih untuk condong untuk “merapat” ke Asia daripada ke Amerika serikat dan Eropa. Hatoyama dalam beberapa kesempatan kampanye mengatakan bahwa Jepang harus mengutamakan Bangsa Asia, karena bila jepang dan bangsa di Asia lain bisa mengembangkan potensinya maka dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi baru seperti di Eropa. Mungkin di era kepemimpinan Hatoyama, Single Currency antara Korea, China dan Jepang seperti yang pernah dibahas dalam periode mantan PM Junichiro Koizumi dan PM Taro Aso, akan terwujud.
Sebagaimana yang dilansir oleh banyak surat kabar di Jepang, Hatoyama akan meningkatkan “derajat” Jepang dalam politik luar negeri dengan Amerika Serikat. Kebijakan keamanan sepertinya akan sangat diperhatikan oleh Hatoyama. “Jepang harus mengembangkan system keamanan agar lebih independen dari Amerika” kata Hatoyama, sebagaimana dilansir oleh harian Jepang, mainichi daily news. Isu-isu nasionalisme memang salah satu “senjata” bagi Hatoyama dalam menarik simpati warga masyarakat.
Dampak terhadap Indonesia
Hubungan Indonesia – Jepang terbilang sangat stabil dibandingkan dengan hubungan Indonesia dengan Belanda, Australia atau bahkan dengan Malaysia. Tidak ada gejolak yang mempengaruhi hubungan kedua negara pasca Peristiwa Malari 1974. Pemerintah Jepang pasca peristiwa Malari sangat menjaga hubungan dengan Indonesia. Banyak program bantuan pendidikan berupa beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Jepang kepada Indonesia baik dalam bentuk non Loan maupun dalam bentuk Loan (pinjaman LN).
Calon PM. Jepang yang akan datang, Yukio Hatoyama, dalam kampanyenya mengatakan akan meningkatkan hubungan dengan negara-negara Asia termasuk dengan Indonesia. Hal ini patut ditunggu aplikasi dan implikasinya. Terkait dengan investasi, apakah pemerintah Jepang akan mendorong para Investor dari Jepang untuk menaruh “uang” di Indonesia lebih besar lagi atau apakah Jepang akan membuka “keran” import yang lebih besar ke Indonesia. Patut ditunggu juga, apakah ada dampak yang signifikan terhadap kerjasama di bidang pendidikan (beasiswa atau infrastruktur pendidikan) dan di bidang tenaga kerja. Tahun 2008 lalu, Indonesia mengirimkan 300 perawat ke Jepang (antaranews, 2008) sebagai kerjasama awal dari total 1000 perawat yang akan dikirimkan ke Jepang. Pekerja-pekerja /trainee asal Indonesia juga banyak tersebar di banyak perusahaan manufaktur di Jepang. Apakah setelah pergantian kepemimpinan baru di Jepang, akan ada perubahan drastis di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan.
Para analis dan praktisi pasar modal dan valuta asing juga berharap akan ada dampak positif dari hasil pemilu Jepang ini terhadap nilai tukar rupiah-yen dan peningkatan indeks saham. Seperti kita ketahui bersama bahwa Yen melonjak sangat tajam pada penghujung 2008 (bahkan 1 Yen mencapai 129 rupiah) sebagai akibat dari krisis keuangan global II. Semoga kebijakan yang akan diambil oleh PM yang baru nanti dapat berdampak baik bagi ekonomi kedua negara. Diplomat Jepang di Indonesia mengatakan bahwa pemerintahan yang baru nanti tetap akan memprioritaskan Indonesia sebagai salah satu mitra yang sangat penting (kendariekspres,2009). Hanya saja kita juga patut melihat, kebijakan apa yang akan diambil oleh pemerintah kita dalam membina kerjasama dengan pemerintahan baru Jepang.
Jepang selalu mengatakan bahwa mereka adalah Saudara Tua Indonesia. Saudara Tua dan Saudara Muda akan selalu bekerja sama dengan baik..Semoga.
Saturday, 12 September 2009
Menghitung Hari...
Menghitung hari detik demi detik......
itu lah penggalan lagu dari Kris Dayanti yang sangat terkenal. Tulisan ini juga tentang menghitung hari walaupun "temanya" tidak sama dengan lagu itu. Lagu itu bercerita tentang kisah percintaan tapi tulisan ini bukan menggambarkan kisah romantis tapi hanya sebuah curahan ataupun renungan dari penulis ketika menunggu waktu untuk pulang kembali ke Negeri Tercinta, Indonesia.
Dua minggu lagi...
ya dua minggu lagi, kita akan pulang ke Indonesia, negeri kampung halaman yang memberikan inspirasi dan tempat kehidupan yang sangat "indah". Indah dalam artian sebenarnya, tapi juga indah dalm artian kritik sosial kepada masyarakatnya, ataupun ke pemimpinnya agar terus membuat Indonesia menjaid lebih indah, indah dan indah dalam arti sebenarnya. Dalam dua minggu lagi, aku akan merasakan perbedaan yag sangat mencolok antara tempat tinggal sekarang dan Indonesia.
Jepang
Penulis saat ini tinggal di Jepang. Belajar, bersahabat dan tumbuh di Jepang, walaupun hanya sesaat. Negara maju di asia yang meng-klaim dirinya adalah saudara "tua" Indonesia. Negara yang mempunyai ikatan historic yang sangat kuat dengan negara kita. Negara yang juga hancur akibat perang tapi termasuk negara yang sangat cepat me-recovery dirinya menjadi negara maju. Banyak hal penting (dibaca: bermanfaat) yang di dapat dalam menjalani pendidikan di Jepang. Bagaimana penulis mendapatkan arti meng-antri, hakikat tepat waktu dan indahnya menjaga kebersihan. Hal-hal tersebut memang terkesan sederhana dan sepele tapi mengapa Bangsa kami, tanah airku, sangat sulit untuk menerapkan itu. Ah...kita harus berubah..aku tidak mau seperti itu terus, semoga saja ketika ku pulang nanti bangsaku semakin indah..indah..
..Suatu saat aku juga mau, ketika orang asing pulang dari Indonesia, mereka bercerita kalau di Indonesia, semua tertib, semua bersih dan tidak ada lagi istilah "jam karet". Jam karet memang identik dengan diri penulis, bahkan penulis sangat sulit untuk merubah budaya jam karet di dalam diri penulis sendiri. Ah..harus berubah menjadi lebih baik..dan tentu saja lebih indah dalam arti sebenarnya.
Pendidikan, Kesehatan dan Keamanan
Menghitung hari, periode dimana kita mencoba untuk merenung kapan tanggal kita akan pulang, dan merekam hal-hal yang bisa kit abawa pulang dan kita pkembangkan di tanah air kita. Renungan dan lamunan penulis mencoba melihat hal-hal yang lebih luas lagi. Penulis tertarik kepada 3 bidang yang sangat mendapat prioritas dari Pemerintah Jepang. Pendidikan, kesehatan dan keamanan. Pendidikan adalah investasi terbesar bagi hidup manusia. Mendidik manusia menjadi manusia yang cerdas, berbudi dan mampu mengelola lingkunga dengan baik. Jepang telah melakukan hal tersebut dari waktu yang lampau, bahkan melebihi satu abad yang lalu. Hasilnya dapat mereka rasakan sekarang, begitu banyak SDM yang mereka miliki untuk membangun bangsanya. Hanya saja, seiring perkembangan jaman, generasi muda Jepang juga semakin cenderung, sebagian-tidak semuanya, mulai meninggalkan norma-norma yang ada dan sangat menyukai dunia "malam, mewah atau dunia gemerlap" seperti sex bebas, mabuk dan sebagainya. Inilah yang harus kita prevent dari budaya asing sehingga generasi muda Indonesia tidak menjadi generasi yang hanya senang dengan "dunia gemerlap".
Dari segi kesehatan, pemerintah Jepang juga sangat memperhatikan warganya. Walaupun, kesehatan di sini sangat mahal, tapi itu juga sudah disubsidi oleh pemerintahnya sehingga tetap terjangkau oleh warganya. Bidang lain yang sangat dijaga oleh pemerintah adalah keamanan. Sangat aman bila berpergian di jepang, tidak perlu takut akan perampokan, penodongan atau copet-copet sebagaimana sering kita temui di dalam KRL, metro mini dan bis lainnya bila sedang berada di kota-kota besar di Indonesia. Begitu pula bagi anak-anak, tidak perlu takut akan penculikan, karena anak-anak kecil di Jepang sudah dibiasakan untuk pergi ke sekolah sendiri dengan menggunakan transportasi umum. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pihak keamananan juga sangat tinggi.
Transportasi...
Keamanan dan kenyamanan transportasi di Jepang merupakan kunci kenapa orang jepang sangat cinta dengan moda transportasi massal yang mereka punya. Mengapa ini sangat sulit tercipta di negara kita? apakah faktor dana? apakah faktor SDMnya? ataukah memang ini "takdir: dari Tuhan YME? mudah-mudahan bukan takdir. Semoga ini hanya faktor waktu saja, yang pada masa yang akan datang, kita juga mampu menciptakan transportasi umum yang sangat dicintai oleh warganya. Kita sebagai pengguna juga harus menjaga transportasi umum yang ada. Bagaimana kita mengharapkan yang lebih bagus, kalau kita tidak bisa menjaga transportasi yang sudah ada contohnya dengan tidak membuang sampah di dalam kereta, membeli karcis ataupun hal-hal yang sederhdana lainnya.
Semoga saja hal-hal tersebut juga akan tercipta di Indonesia. Memang pemerintah kita sedang berusaha mewujudkan itu. harus kita support sehingga tidak hanya berjalan di tempat....
uhhhhmmmm.....Semakin dalam renungan ini rasanya...
Setelah sekian lama di sini, semakin berat rasanya untuk pulang kembali ke tanah air. Tapi rasa itu harus segera aku buang, penulis harus segera kembali ke tanah air, mengaplikasikan ilmu yang di dapat atau minimal memberikan "kemanfaatan" dari ilmu dan pengalaman yang di dapat kepada orang lain di tanah air.
Menghitung hari....berarti juga menghitung apa saja yang telah kita dapatkan dan apa saja rencana-rencana yang telah kita buat untuk mengaplikasikan pengalaman yang telah kita dapat. Minimal untuk diri sendiri, keluarga ataupun lingkungan kerja kita walaupun nanti manfaatnya hanya sedikit, minimal kita telah berusaha memberi manfaat dan tidak akan berhenti untuk berbagi... Seperti harapan kita, semoga bangsa Indonesia menjadi lebih baik...dan tentu saja lebih indah dalam artian sebenarnya....
itu lah penggalan lagu dari Kris Dayanti yang sangat terkenal. Tulisan ini juga tentang menghitung hari walaupun "temanya" tidak sama dengan lagu itu. Lagu itu bercerita tentang kisah percintaan tapi tulisan ini bukan menggambarkan kisah romantis tapi hanya sebuah curahan ataupun renungan dari penulis ketika menunggu waktu untuk pulang kembali ke Negeri Tercinta, Indonesia.
Dua minggu lagi...
ya dua minggu lagi, kita akan pulang ke Indonesia, negeri kampung halaman yang memberikan inspirasi dan tempat kehidupan yang sangat "indah". Indah dalam artian sebenarnya, tapi juga indah dalm artian kritik sosial kepada masyarakatnya, ataupun ke pemimpinnya agar terus membuat Indonesia menjaid lebih indah, indah dan indah dalam arti sebenarnya. Dalam dua minggu lagi, aku akan merasakan perbedaan yag sangat mencolok antara tempat tinggal sekarang dan Indonesia.
Jepang
Penulis saat ini tinggal di Jepang. Belajar, bersahabat dan tumbuh di Jepang, walaupun hanya sesaat. Negara maju di asia yang meng-klaim dirinya adalah saudara "tua" Indonesia. Negara yang mempunyai ikatan historic yang sangat kuat dengan negara kita. Negara yang juga hancur akibat perang tapi termasuk negara yang sangat cepat me-recovery dirinya menjadi negara maju. Banyak hal penting (dibaca: bermanfaat) yang di dapat dalam menjalani pendidikan di Jepang. Bagaimana penulis mendapatkan arti meng-antri, hakikat tepat waktu dan indahnya menjaga kebersihan. Hal-hal tersebut memang terkesan sederhana dan sepele tapi mengapa Bangsa kami, tanah airku, sangat sulit untuk menerapkan itu. Ah...kita harus berubah..aku tidak mau seperti itu terus, semoga saja ketika ku pulang nanti bangsaku semakin indah..indah..
..Suatu saat aku juga mau, ketika orang asing pulang dari Indonesia, mereka bercerita kalau di Indonesia, semua tertib, semua bersih dan tidak ada lagi istilah "jam karet". Jam karet memang identik dengan diri penulis, bahkan penulis sangat sulit untuk merubah budaya jam karet di dalam diri penulis sendiri. Ah..harus berubah menjadi lebih baik..dan tentu saja lebih indah dalam arti sebenarnya.
Pendidikan, Kesehatan dan Keamanan
Menghitung hari, periode dimana kita mencoba untuk merenung kapan tanggal kita akan pulang, dan merekam hal-hal yang bisa kit abawa pulang dan kita pkembangkan di tanah air kita. Renungan dan lamunan penulis mencoba melihat hal-hal yang lebih luas lagi. Penulis tertarik kepada 3 bidang yang sangat mendapat prioritas dari Pemerintah Jepang. Pendidikan, kesehatan dan keamanan. Pendidikan adalah investasi terbesar bagi hidup manusia. Mendidik manusia menjadi manusia yang cerdas, berbudi dan mampu mengelola lingkunga dengan baik. Jepang telah melakukan hal tersebut dari waktu yang lampau, bahkan melebihi satu abad yang lalu. Hasilnya dapat mereka rasakan sekarang, begitu banyak SDM yang mereka miliki untuk membangun bangsanya. Hanya saja, seiring perkembangan jaman, generasi muda Jepang juga semakin cenderung, sebagian-tidak semuanya, mulai meninggalkan norma-norma yang ada dan sangat menyukai dunia "malam, mewah atau dunia gemerlap" seperti sex bebas, mabuk dan sebagainya. Inilah yang harus kita prevent dari budaya asing sehingga generasi muda Indonesia tidak menjadi generasi yang hanya senang dengan "dunia gemerlap".
Dari segi kesehatan, pemerintah Jepang juga sangat memperhatikan warganya. Walaupun, kesehatan di sini sangat mahal, tapi itu juga sudah disubsidi oleh pemerintahnya sehingga tetap terjangkau oleh warganya. Bidang lain yang sangat dijaga oleh pemerintah adalah keamanan. Sangat aman bila berpergian di jepang, tidak perlu takut akan perampokan, penodongan atau copet-copet sebagaimana sering kita temui di dalam KRL, metro mini dan bis lainnya bila sedang berada di kota-kota besar di Indonesia. Begitu pula bagi anak-anak, tidak perlu takut akan penculikan, karena anak-anak kecil di Jepang sudah dibiasakan untuk pergi ke sekolah sendiri dengan menggunakan transportasi umum. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pihak keamananan juga sangat tinggi.
Transportasi...
Keamanan dan kenyamanan transportasi di Jepang merupakan kunci kenapa orang jepang sangat cinta dengan moda transportasi massal yang mereka punya. Mengapa ini sangat sulit tercipta di negara kita? apakah faktor dana? apakah faktor SDMnya? ataukah memang ini "takdir: dari Tuhan YME? mudah-mudahan bukan takdir. Semoga ini hanya faktor waktu saja, yang pada masa yang akan datang, kita juga mampu menciptakan transportasi umum yang sangat dicintai oleh warganya. Kita sebagai pengguna juga harus menjaga transportasi umum yang ada. Bagaimana kita mengharapkan yang lebih bagus, kalau kita tidak bisa menjaga transportasi yang sudah ada contohnya dengan tidak membuang sampah di dalam kereta, membeli karcis ataupun hal-hal yang sederhdana lainnya.
Semoga saja hal-hal tersebut juga akan tercipta di Indonesia. Memang pemerintah kita sedang berusaha mewujudkan itu. harus kita support sehingga tidak hanya berjalan di tempat....
uhhhhmmmm.....Semakin dalam renungan ini rasanya...
Setelah sekian lama di sini, semakin berat rasanya untuk pulang kembali ke tanah air. Tapi rasa itu harus segera aku buang, penulis harus segera kembali ke tanah air, mengaplikasikan ilmu yang di dapat atau minimal memberikan "kemanfaatan" dari ilmu dan pengalaman yang di dapat kepada orang lain di tanah air.
Menghitung hari....berarti juga menghitung apa saja yang telah kita dapatkan dan apa saja rencana-rencana yang telah kita buat untuk mengaplikasikan pengalaman yang telah kita dapat. Minimal untuk diri sendiri, keluarga ataupun lingkungan kerja kita walaupun nanti manfaatnya hanya sedikit, minimal kita telah berusaha memberi manfaat dan tidak akan berhenti untuk berbagi... Seperti harapan kita, semoga bangsa Indonesia menjadi lebih baik...dan tentu saja lebih indah dalam artian sebenarnya....
Monday, 22 June 2009
Jangan malu pakai produk Indonesia
Ternyata kita harus bangga memakai produk Indonesia. DI Fujisawa, Jepang, saya menemukan banyak produk Indonesia yang di jual di sini, seperti sepatu dan baju. Harganya pun tidak murah alias mahal bos!! hampir sama dengan harga produk made in USA bahkan harganya lebih mahal dari barang-barang produk CHina.Viva Indonesia.....Jadi ga ada alasan untuk malu mengunakan produk kita sendiri kan??
Sunday, 21 June 2009
"Berikan aku sepuluh pemuda Indonesia, niscaya akan ku goncang dunia ini"
"Berikan aku sepuluh pemuda Indonesia, niscaya akan ku goncang dunia ini"
Itulah kata-kata yang pernah dikatakan Pemimpin besar bangsa ini , Bung Karno.
Kata-kata sakti itu digunakan oleh Bung Karno untuk menunjukan kalau pemuda bangsa Indonesia adalah anak-anak muda yang hebat yang bila dididik dan dibina dengan baik dapat menjadi "penguasa" dunia.
Memang benar, bila pemuda-pemuda Indonesia diberi pendidikan dan kesempatan yang baik, mereka akan berkembang dengan baik. Coba lihat saja, di Metro TV tanggal 21 Juni 2009, ada anak-anak Indonesia yang menjadi juara-juara di Olimpiade Ilmu Pasti tingkat internasional dan juara dunia pada olahraga catur tingkat pelajar internasional. Mereka menjadi juara tingkat dunia yang sangat berjasa bagi Indonesia.
Pemuda-pemuda tersebut telah berhasil mengibarkan bendera Indonesia dan membuat lagu Indonesia Raya berkumandang di negara lain. Hanya ada dua event yang membuat bendera merah putih berkibar di negara lain dan lagu Indonesia Raya berkumandang di negara lain, yaitu ketika Presiden kita berkunjung ke sana dan ketika ada orang Indonesia menjuarai suatu kompetisi. Dan pemuda-pemuda itulah yang membuat Indonesia di kenal baik di luar negeri dibandingkan dengan presiden.
Tapi apa yang membuat pemuda-pemuda kita juga banyak yang tidak bisa berkembang? Itulah yang kini menjadi pekerjaan rumah para pemimpin kita. Dari masalah pendidikan di daerah yang terlalu tinggi gap-nya dengan kualitas pendidikan di kota besar, masalah kurangnya penghargaan dan apresiasi negara terhadap para pemuda yang berprestasi, sampai mengenai tingginya biaya pendidikan, kualitas guru, kesehatan dan narkoba, sampai mengenai masalah "UAN" juga harus secepatnya diatasi oleh pemimpin kita.
Contohnya saja, di salah satu stasiun TV nasional, ada pemuda berprestasi "kaliber" dunia yang kesulitan mencari perguruan tinggi di dalam negeri dan harus mengikuti tes masuk PTN sama dengan anak-anak lainnya yang "biasa" saja dan tidak diakui "medali emasnya". Ini merupakan contoh dari kurangnya apresiasi negara terhadap pemuda yang telah mengharumkan nama negara. Yang membuat perihatin adalah, negara tetangga kita, Singapura, malah mengirimkan perwakilan universitasnya untuk merekrut anak tersebut tanpa tes dan mungkin saja dengan beasiswa yang tinggi. Kalau hal seperti ini terjadi terus menerus, lama-lama pemuda-pemuda pintar kita akan "dipatent-kan" oleh negara lain. Wah repot....
Sementara ada juga kasus lain dari cermin ketidakmerataannya pendidikan kita. Ada anak kelas 5 SD di salah satu daerah terpencil di Papua yang tidak bisa berhitung karena di sekolah tersebut tidak ada gurunya dan terkadang gurunya hanya datang 4 hari dalam seminggu. Wah, sangat menyedihkan, bagaimana mutu pendidikan negara kita kalau hal ini terus berlanjut.
Inilah sekelumit 'kerikil-kerikil" yang harus dibersihkan dari jalan pendidikan kita. Pemerintah sebagai penyelenggara negara harus concern mengenai nasib masa depan pemuda-pemuda kita. Pemerataan pendidikan juga harus segera diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita secara konkrit dan implementatif. Anak-anak usia sekolah harus segera "dikembalikan" ke sekolah. Pemerintah pasti tahu caranya, hanya saja mau atau tidak itu masalahnya....
Cita-cita Bung Karno sangat mulia, dan kita harus bisa mencapainya dengan kerja keras yang baik....Ingat pesan dari Bung Karno itu hanya 1o pemuda, coba bayangkan bila ada seratus, seribu atau bahkan ada sejuta pemuda Indonesia yang hebat...Ruarrrrr Biasaa......................
Itulah kata-kata yang pernah dikatakan Pemimpin besar bangsa ini , Bung Karno.
Kata-kata sakti itu digunakan oleh Bung Karno untuk menunjukan kalau pemuda bangsa Indonesia adalah anak-anak muda yang hebat yang bila dididik dan dibina dengan baik dapat menjadi "penguasa" dunia.
Memang benar, bila pemuda-pemuda Indonesia diberi pendidikan dan kesempatan yang baik, mereka akan berkembang dengan baik. Coba lihat saja, di Metro TV tanggal 21 Juni 2009, ada anak-anak Indonesia yang menjadi juara-juara di Olimpiade Ilmu Pasti tingkat internasional dan juara dunia pada olahraga catur tingkat pelajar internasional. Mereka menjadi juara tingkat dunia yang sangat berjasa bagi Indonesia.
Pemuda-pemuda tersebut telah berhasil mengibarkan bendera Indonesia dan membuat lagu Indonesia Raya berkumandang di negara lain. Hanya ada dua event yang membuat bendera merah putih berkibar di negara lain dan lagu Indonesia Raya berkumandang di negara lain, yaitu ketika Presiden kita berkunjung ke sana dan ketika ada orang Indonesia menjuarai suatu kompetisi. Dan pemuda-pemuda itulah yang membuat Indonesia di kenal baik di luar negeri dibandingkan dengan presiden.
Tapi apa yang membuat pemuda-pemuda kita juga banyak yang tidak bisa berkembang? Itulah yang kini menjadi pekerjaan rumah para pemimpin kita. Dari masalah pendidikan di daerah yang terlalu tinggi gap-nya dengan kualitas pendidikan di kota besar, masalah kurangnya penghargaan dan apresiasi negara terhadap para pemuda yang berprestasi, sampai mengenai tingginya biaya pendidikan, kualitas guru, kesehatan dan narkoba, sampai mengenai masalah "UAN" juga harus secepatnya diatasi oleh pemimpin kita.
Contohnya saja, di salah satu stasiun TV nasional, ada pemuda berprestasi "kaliber" dunia yang kesulitan mencari perguruan tinggi di dalam negeri dan harus mengikuti tes masuk PTN sama dengan anak-anak lainnya yang "biasa" saja dan tidak diakui "medali emasnya". Ini merupakan contoh dari kurangnya apresiasi negara terhadap pemuda yang telah mengharumkan nama negara. Yang membuat perihatin adalah, negara tetangga kita, Singapura, malah mengirimkan perwakilan universitasnya untuk merekrut anak tersebut tanpa tes dan mungkin saja dengan beasiswa yang tinggi. Kalau hal seperti ini terjadi terus menerus, lama-lama pemuda-pemuda pintar kita akan "dipatent-kan" oleh negara lain. Wah repot....
Sementara ada juga kasus lain dari cermin ketidakmerataannya pendidikan kita. Ada anak kelas 5 SD di salah satu daerah terpencil di Papua yang tidak bisa berhitung karena di sekolah tersebut tidak ada gurunya dan terkadang gurunya hanya datang 4 hari dalam seminggu. Wah, sangat menyedihkan, bagaimana mutu pendidikan negara kita kalau hal ini terus berlanjut.
Inilah sekelumit 'kerikil-kerikil" yang harus dibersihkan dari jalan pendidikan kita. Pemerintah sebagai penyelenggara negara harus concern mengenai nasib masa depan pemuda-pemuda kita. Pemerataan pendidikan juga harus segera diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita secara konkrit dan implementatif. Anak-anak usia sekolah harus segera "dikembalikan" ke sekolah. Pemerintah pasti tahu caranya, hanya saja mau atau tidak itu masalahnya....
Cita-cita Bung Karno sangat mulia, dan kita harus bisa mencapainya dengan kerja keras yang baik....Ingat pesan dari Bung Karno itu hanya 1o pemuda, coba bayangkan bila ada seratus, seribu atau bahkan ada sejuta pemuda Indonesia yang hebat...Ruarrrrr Biasaa......................
Debat Capres..
"Ah..kalau cuma gitu gue juga bisa..."..Celetuk teman di sampingku ketika kami melihat debat capres di TV di medio Juni 2009. " Ga harus jadi orang pintar dan calon presiden kalau cuma bisa setuju dengan pendapat lawan dan mengatakan hal-hal yang bersifat umum".
hehe...makin keras tertawaku mendengar polah kata temanku ini...karena dia mengatakan itu dengan yakin sekali.....
tapi bila dipikir-pikir, benar juga temanku ini..karena debat kali itu, sangat terasa hambar dan kurang menonjolkan program dan visi apa yang akan dijalankan oleh para calon presiden itu. Bahkan mereka sering setuju dengan pendapat kandidat yang lain..
temanku kembali berceletuk.."kalau pada sama semua jawabannya, ngapain juga harus ada tiga calonnya..kan cukup satu aja...ah ada-ada aja nih"
Aku mencoba merenung, mendengar celetukan temenku itu. Bila dilihat secara mendalam tentang jawaban-jawaban mereka, cenderung memilih jawaban yang bersifat makro dan general. Contohnya seperti bagaimana mereka akan mengatasi kemiskinan dan lemahnya pendidikan di daerah tertinggal. Para calon presiden itu hanya mengatakan akan meningkatkan income dan memperluas lapangan pekerjaan. Dus..untuk meningkatkan mutu pendidikan, mereka akan meningkatkan kualitas guru dan kesejahteraan guru.
Kalau jawaban seperti itu, sangat umum sekali dan kurang menyentuh langkah teknis atau kurang implementatif. karena para capres kurang mendetilkan langkah konkrit apa yang akan mereka ambil ketika terpilih menjadi pemimpin. Jawaban-jawaban yang diberikan terkesan hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan moderator secara formal dan "jaga image". Ada pengamat di TV, yang mengatakan kalau debat itu seperti acara "moderator bertanya, capres menjawab". Benar juga sih....
Tapi bila kita melihat secara obyektif, debat tersebut merupakan awal yang baik bagi pembelajaran politik bangsa. Ada pengamat lain yang mengatakan, kalau debat kemarin baru sebagai awal dan para capres cenderung menjaga citra mereka dan akan lebih menggiggit di acara debat berikutnya. Ah...semoga saja...biar rakyat bisa memilah visi-misi capres mana yang konkrit yang dapat mengatasi permasalahan bangsa sehingga rakyat bisa memilih capres yang baik dan berkualitas.
Lagi-lagi temenku menyadarkan ku dengan celetukannya..."ah..kalau cuma gitu, gue juga bisa..."
hehe...makin keras tertawaku mendengar polah kata temanku ini...karena dia mengatakan itu dengan yakin sekali.....
tapi bila dipikir-pikir, benar juga temanku ini..karena debat kali itu, sangat terasa hambar dan kurang menonjolkan program dan visi apa yang akan dijalankan oleh para calon presiden itu. Bahkan mereka sering setuju dengan pendapat kandidat yang lain..
temanku kembali berceletuk.."kalau pada sama semua jawabannya, ngapain juga harus ada tiga calonnya..kan cukup satu aja...ah ada-ada aja nih"
Aku mencoba merenung, mendengar celetukan temenku itu. Bila dilihat secara mendalam tentang jawaban-jawaban mereka, cenderung memilih jawaban yang bersifat makro dan general. Contohnya seperti bagaimana mereka akan mengatasi kemiskinan dan lemahnya pendidikan di daerah tertinggal. Para calon presiden itu hanya mengatakan akan meningkatkan income dan memperluas lapangan pekerjaan. Dus..untuk meningkatkan mutu pendidikan, mereka akan meningkatkan kualitas guru dan kesejahteraan guru.
Kalau jawaban seperti itu, sangat umum sekali dan kurang menyentuh langkah teknis atau kurang implementatif. karena para capres kurang mendetilkan langkah konkrit apa yang akan mereka ambil ketika terpilih menjadi pemimpin. Jawaban-jawaban yang diberikan terkesan hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan moderator secara formal dan "jaga image". Ada pengamat di TV, yang mengatakan kalau debat itu seperti acara "moderator bertanya, capres menjawab". Benar juga sih....
Tapi bila kita melihat secara obyektif, debat tersebut merupakan awal yang baik bagi pembelajaran politik bangsa. Ada pengamat lain yang mengatakan, kalau debat kemarin baru sebagai awal dan para capres cenderung menjaga citra mereka dan akan lebih menggiggit di acara debat berikutnya. Ah...semoga saja...biar rakyat bisa memilah visi-misi capres mana yang konkrit yang dapat mengatasi permasalahan bangsa sehingga rakyat bisa memilih capres yang baik dan berkualitas.
Lagi-lagi temenku menyadarkan ku dengan celetukannya..."ah..kalau cuma gitu, gue juga bisa..."
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tamu Blog ini
Terima kasih atas kunjungannya..